WASHINGTON D.C., PPRNEWSMEDIA.COM – Memasuki minggu keempat operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran, stabilitas politik di Washington mulai goyah. Tekanan domestik terhadap Gedung Putih dilaporkan mencapai puncaknya setelah Senator Demokrat, Chris Murphy, melontarkan kritik pedas terhadap strategi perang Presiden Donald Trump.
Kritik Tajam dari Capitol Hill
Senator Murphy, yang merupakan anggota terkemuka Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyatakan bahwa jalannya peperangan kini mulai tidak terarah. Ia bahkan menyebut bahwa Presiden Trump telah kehilangan kendali atas situasi di lapangan.
"Presiden kini berada dalam 'mode panik'. Operasi militer yang awalnya dimaksudkan sebagai tekanan strategis justru berubah menjadi 'perang gila milik Trump' yang mengancam stabilitas nasional," ujar Murphy dalam keterangannya sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Minggu (22/3/2026).
Dampak Ekonomi: Harga BBM Melonjak
Keresahan di tingkat legislatif ini bukan tanpa alasan. Murphy menyoroti dampak nyata konflik tersebut terhadap dapur warga Amerika. Eskalasi militer di Timur Tengah telah memicu:
- Lonjakan tajam harga bahan bakar di pasar domestik.
- Kontraksi ekonomi nasional secara menyeluruh.
- Ancaman inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat.
Para pengamat ekonomi di Wall Street juga memperingatkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz—arteri utama energi global—telah memberikan sentimen negatif yang signifikan terhadap indeks pasar saham.
Ancaman terhadap Infrastruktur Energi
Sebelumnya, Presiden Trump sempat mengeluarkan ancaman keras untuk melenyapkan pembangkit-pembangkit listrik di Iran. Langkah ekstrem ini diambil sebagai respons atas tindakan Teheran yang menutup Selat Hormuz. Namun, alih-alih memaksa Teheran tunduk, langkah ini justru memicu kekhawatiran akan sabotase infrastruktur dan pemblokiran jalur pelayaran internasional yang lebih luas.
Gedung Putih Masih Bungkam
Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik keras dari Senat tersebut. Situasi di lapangan menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari kata usai.
Kini, publik dunia dan warga Amerika Serikat menanti apakah pemerintahan Trump akan terus memilih jalur konfrontasi militer yang berisiko tinggi bagi ekonomi global, atau mulai melirik langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan.
TIM REDAKSI
