LONDON, PPRNEWSMEDIA.COM – Gelombang penolakan dari negara-negara anggota NATO dan sekutu Barat mulai bermunculan menanggapi desakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sejumlah pemimpin negara secara resmi menolak keterlibatan aliansi militer tersebut dalam misi pembukaan kembali Selat Hormuz yang saat ini masih ditutup oleh Iran akibat berkecamuknya perang.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa meskipun London sedang menyusun rencana kolektif untuk memulihkan navigasi di jalur distribusi minyak vital tersebut, keterlibatan NATO secara institusi sama sekali tidak masuk dalam agenda.
"Saya tegaskan: itu bukan, dan tidak pernah direncanakan menjadi misi NATO," ujar PM Starmer dalam keterangan pers di Downing Street, Selasa (17/3/2026).
Sikap Tegas Jerman dan Sekutu Eropa
Sentimen serupa disampaikan oleh Berlin. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukan merupakan urusan NATO. Ia menegaskan tidak akan ada kontribusi militer dari pihak Jerman karena tidak adanya keputusan bersama untuk melakukan intervensi bersenjata di kawasan tersebut.
Langkah penjagaan jarak ini juga diikuti oleh Polandia, Spanyol, dan Yunani yang menolak keterlibatan militer langsung. Sementara itu, dari kawasan Pasifik, Australia telah memastikan tidak akan mengirimkan kapal angkatan laut ke lokasi konflik, sebuah sikap yang juga didukung oleh Swedia dan Jepang.
Tekanan Diplomatik Donald Trump
Sebelumnya, Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa keengganan anggota aliansi untuk membantu pengawalan kapal tanker akan berdampak "sangat buruk" bagi masa depan NATO. Trump mendesak negara-negara sekutu, termasuk Tiongkok dan Korea Selatan, untuk segera menunjukkan komitmen militer bersama AS.
Sebagai bentuk tekanan tambahan, Trump bahkan mengumumkan penundaan pertemuan puncak dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, selama satu bulan guna memfokuskan perhatian pada krisis ini.
Dampak Ekonomi Global
Ketegangan di Selat Hormuz kini telah memasuki minggu ketiga dan memicu guncangan ekonomi hebat. Harga minyak dunia masih bertahan di atas level USD 100 per barel, yang memperburuk inflasi global serta mengganggu stabilitas rantai pasok energi dunia.
Hingga saat ini, para menteri luar negeri Uni Eropa masih melakukan koordinasi intensif di Brussels. Meski PM Starmer mengisyaratkan adanya peluang pembentukan "aliansi mitra sukarela" di luar bendera NATO, Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, menilai bahwa mewujudkan misi keamanan yang sukses dalam jangka pendek akan sangat sulit dicapai mengingat tingginya risiko di lapangan.
TIM REDAKSI
