Ketika Konten Mengalahkan Nurani: Distorsi Nilai di Era Monetisasi Media Sosial

PROBOLINGGO, PPRNEWSMEDIA.COM - Fenomena sebagaimana judul di atas bukan sekadar soal “tren konten aneh,” tetapi gejala perubahan struktur insentif di media sosial. Ketika platform seperti Facebook (melalui fitur monetisasi seperti FB Pro) memberi imbalan pada engagement—bukan kualitas atau etika—maka yang terjadi adalah perlombaan perhatian (attention economy) tanpa rem nilai.

Secara kritis, ada beberapa lapisan masalah yang bisa ditarik:

Pertama, pergeseran orientasi dari makna ke metrik. Konten tidak lagi dinilai dari nilai edukatif, empati, atau kontribusi sosial, tetapi dari views, likes, dan watch time. Ini menciptakan insentif untuk memproduksi hal-hal ekstrem, dramatis, bahkan tidak masuk akal—karena algoritma cenderung “menghadiahi” yang memicu reaksi cepat, bukan refleksi mendalam.

Kedua, normalisasi perilaku tidak wajar. Ketika orang tua mengeksploitasi anak demi konten, atau pasangan saling merendahkan untuk hiburan publik, terjadi banalitas penyimpangan—hal yang dulu dianggap tidak pantas kini dianggap biasa. Dalam jangka panjang, ini berisiko menggeser standar sosial dan moral, terutama bagi generasi muda yang menjadikannya referensi.

Ketiga, komodifikasi kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang seharusnya natural (hubungan keluarga, interaksi sosial, bahkan kesulitan hidup) berubah menjadi “aset konten.” Akibatnya, batas antara realitas dan rekayasa menjadi kabur. Orang tidak lagi hidup untuk mengalami, tetapi untuk direkam dan ditonton.

Keempat, eksploitasi kerentanan ekonomi. Tidak sedikit individu—termasuk lansia—yang terdorong membuat konten “dipaksakan” karena melihat peluang finansial. Ini bukan semata kesalahan individu, tetapi juga cerminan tekanan ekonomi yang membuat orang rela mengorbankan martabat demi penghasilan digital.

Kelima, tanggung jawab platform yang minim. Algoritma tidak netral; ia didesain untuk mempertahankan perhatian pengguna. Tanpa kurasi nilai yang kuat, platform secara tidak langsung ikut memperluas distribusi konten yang problematik. Kebijakan moderasi seringkali tertinggal dibanding kecepatan produksi konten.

Kesimpulannya, yang kita hadapi bukan sekadar “konten hantu dan halu,” tetapi krisis orientasi dalam ekosistem digital. Ketika perhatian menjadi mata uang utama, maka yang paling ekstrem akan menang—kecuali ada upaya sadar dari pengguna, kreator, dan platform untuk mengembalikan arah: dari sekadar viral menuju bermakna.


Penulis : Dr. AMIRULLAH, S.E., M.M.




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama