JAKARTA, PPRNEWSMEDIA.COM – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menanggapi secara hati-hati rencana pemerintah terkait penerapan kebijakan Work from Home (WFH) atau Work from Anywhere (WFA) sebanyak satu hari dalam sepekan. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan bahwa kebijakan ini memerlukan kajian mendalam agar tidak mengganggu daya saing dan produktivitas industri nasional.
Perbedaan Karakteristik Sektor Industri
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (23/3/2026), Anindya menyoroti adanya perbedaan mendasar antara sektor jasa dan manufaktur. Menurutnya, sektor jasa memiliki fleksibilitas tinggi karena tidak bergantung pada kehadiran fisik di lini produksi. Sebaliknya, sektor manufaktur memiliki ketergantungan besar pada proses produksi fisik yang sulit didelegasikan secara jarak jauh.
“Beberapa sektor seperti service industry tentu masuk akal (menerapkan WFH). Tetapi di bidang manufaktur, tentunya itu mesti dikaji. Fokus utamanya adalah bagaimana melakukan efisiensi tanpa menghilangkan produktivitas,” ujar Anindya Bakrie.
Kadin mendorong agar dunia usaha tetap mengedepankan pemanfaatan teknologi sebagai solusi efisiensi di tengah persaingan ketat di kawasan ASEAN. Implementasi WFH diharapkan tidak menjadi beban baru yang menurunkan output produksi nasional.
Potensi Penghematan BBM Hingga 20 Persen
Rencana kebijakan WFH satu hari ini muncul sebagai strategi pemerintah untuk melakukan efisiensi energi, menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan adanya potensi penghematan konsumsi BBM yang cukup signifikan melalui kebijakan ini. Berdasarkan hitungan kasar, penghematan pada hari penerapan WFH tersebut diprediksi dapat mencapai angka 20%.
“Ada hitungan kasar sekali, kira-kira 20 persen. Itu menunjukkan adanya potensi pengurangan konsumsi BBM yang signifikan meski belum dihitung secara rinci,” jelas Purbaya pada Sabtu (21/3/2026).
Menjaga Keseimbangan Produktivitas
Pemerintah akhirnya memutuskan opsi WFA hanya berlaku satu hari dalam sepekan. Keputusan ini diambil untuk menjaga efektivitas kerja, mengingat tidak semua jenis pekerjaan dapat dilakukan secara optimal dari rumah.
Purbaya menilai, penerapan WFH yang terlalu sering berisiko menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, opsi satu hari dianggap sebagai jalan tengah yang paling moderat. Jika digabungkan dengan akhir pekan, kebijakan ini diharapkan memberikan jeda waktu yang cukup bagi pekerja tanpa mengorbankan target-target pekerjaan yang telah ditetapkan.
TIM REDAKSI
