PPRNEWSMEDIA.COM – Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Selasa (24/3/2026), dipicu oleh kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran serta berlanjutnya gangguan pasokan energi global. Ketegangan di kawasan Teluk kian meningkat setelah Iran membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait adanya kemajuan dalam negosiasi perdamaian.
Lonjakan Harga dan Krisis Pasokan
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah jenis Brent ditutup melonjak 4,55% atau US$ 4,55 ke level US$ 104,49 per barel. Tren serupa diikuti oleh West Texas Intermediate (WTI) AS yang melonjak 4,79% ke posisi US$ 92,35 per barel.
Kenaikan tajam ini merupakan imbas langsung dari tertutupnya Selat Hormuz, jalur krusial yang melayani seperlima pengiriman minyak dan Liquefied Natural Gas (LNG) dunia. International Energy Agency (IEA) mencatat situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.
“Situasi di lapangan belum berubah. Selat Hormuz pada dasarnya masih tertutup dan gangguan pasokan terus berlanjut, sehingga memperketat pasar,” ujar Nikos Tzabouras, analis dari platform Tradu.com.
Sinyal Kontradiktif dan Eskalasi Militer
Pasar energi sempat bergejolak setelah Presiden Donald Trump mengklaim adanya "poin-poin kesepakatan besar" dengan Iran, yang sempat menekan harga minyak hingga 10%. Namun, optimisme tersebut sirna setelah Teheran secara resmi membantah adanya pembicaraan dengan Washington.
Di saat yang sama, eskalasi militer justru meningkat. Pada hari Selasa, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel. Selain itu, serangan terhadap infrastruktur energi dilaporkan terjadi di Isfahan dan Khorramshahr, Iran, yang menghantam fasilitas gas dan pembangkit listrik.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai pasar saat ini sedang memperhitungkan risiko kegagalan diplomasi. "Kita melihat sinyal yang saling bertentangan. Pasar tampaknya yakin bahwa perang akan terus berlanjut," ungkapnya.
Ancaman Defisit Global
Analis Riset Global X, Kenny Zhu, memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat mengubah disrupsi sementara menjadi krisis jangka panjang. Dunia kini menghadapi pergeseran proyeksi energi dari potensi kelebihan pasokan (oversupply) menjadi ancaman defisit yang nyata.
Jika blokade di Selat Hormuz terus berlanjut hingga akhir April, Macquarie memprediksi harga minyak Brent berpotensi menembus US$ 150 per barel. Angka ini akan melampaui rekor tertinggi sejarah sebesar US$ 147 per barel yang pernah tercipta pada tahun 2008 silam.
TIM REDAKSI
